Tentang aku, kamu, dan dia II

Gambar ilustrasi diambil dari google

Ini kisah yang saya alami hari ini, minggu pagi, diawalai dari jalan-jalan pagi dikota perantauan tepatnya di kota jember. Sedikit cerita saya seorang bapak dengan satu orang putri yang merantau hidup berjauhan dengan anak istri dipisahkan dengan jarak kurang lebih 350km dan hanya bisa ketemu anak istri paling cepat 2 minggu sekali. Ketika libur kerja biasanya saya mencari hiburan melepas penat setelah lima hari sibuk dengan rutinitas kerja sebagai buruh kapitalis, dan pagi ini saya pergi ke alun-alun kota.

Seperti pada umumnya dikota-kota lain alun-alun kalau hari minggu banyak dikungjungi orang dan ada berbagai kegiatan. Pas sudah nyampai lokasi paling saya duduk dikursi taman sambil menyasikkan beberapa orang dengan berbagai kegiatan meraka, diantaranya komunitas skyboard, sepatu rota, sepeda ontel, olahraga jogging dan banyak lagi. Pandangan saya tertuju pada seorang bapak muda seumuran saya yang datang dengan anak lakinya seumuran dengan anak saya. Dari kejauhan saya melihat bapak tersebut yang datang dengan mengendarai becak, sibapak mengendarai becak dengan wajah sumringah dan didepan ada sianak dengan wajah penuh bahagia.

Dari kejauhan saya melihat mereka datang, bekcak mereka berhenti dan diparkir ditepi jalan, sibapak menghampiri sianak dan mengendongnya membatunya untuk turun dari becak tergambar raut wajah bahagia mereka berdua, sianak diturunkan dan langsung berlari-lari keriangan. Memperhatikan mereka berdua bermain, sianak berlarian menuju tempat permainan prosotan sibapak mengikuti setiap gerakan anaknya, meraka bermain dengan bahagia dan penuh semangat.

Selang beberapa waktu bapak dan sianak duduk dikursi disamping saya, kebetulan saya barusan belanja kue dan minuman ringan buat cemilan dikosan. Saya mencoba menawari kue kepada sianak, sembari bertanya siapa namanya dek.. hasan sianak menjawab, Alhamdulillah sianak sangat suka sama kue pemberian saya, selagi anak menikmati kuenya, saya mencoba mengobrol dengan sibapak. Dengan pertanya basabasi sebagai pembuka. Saya mulai bertanya berdua saja mas datang kesini.. ya mas jawab sibapak. Aslinya mana mas, saya bangkalan mas, oh Madura saut saya. Sudah lama mas tinggal disini, sudah mas sudah 5 tahun sejak saya masih bujang sampai sekarang. Sibapak bercerita kalau dia susah cari kerja dikotanya akhirnya nekat merantau dengan kemampuan seadanya bermodalkan nekad, awal datang dia bekerja serabutan, dari kuli bangunan, pencari barang bekas, sampai sekarang mempunyai kerjaan tetap sebagai tukang becak. Dia menikahi perempuan sesama perantauan dari kota asal sibapak, mungkin itu yang namanya jodoh, dan sudah dikaruniai satu orang putra.

Setiap minggu sianak diajak bermain dialun-alun kebetulan kontrakan mereka dekat dengan alun-alun, sibapak juga berkata ya cuma bisa begini mas mau liburan jauh juga butuh biaya deket-deket saja yang peting anak suka dan ceria, dek dalam hati saya tereyuh dalam kesederhaan mereka masih bisa menikmati kebahagiaan. Saya kembali bertanya jarang pulang kemadura mas? Setahun sekali mas kalau hari raya besar/ hari raya haji saja, dari situ saya jadi tau ternyata mudiknya orang Madura pas hari idul adha beda dengan umumnya yang melakukan mudik pas hari raya idul fitri. Sibapak berpamitan, mari mas saya balik duluan sudah siang, monggo saya menjawab.


Pandangan saya masih pada mereka berdua, sibapak mengendong sianak dan menaikkanya di depan, kursi penumpang becak berada, sibapa mulai mendorogn becaknya dan mengayuhnya, meraka pergi barlalu, saya masih duduk termenung jadi ingat sama putri saya yang ada dirumah, saya iri dengan kebahagiaan mereka, dengan kesederhanaan meraka, betapa tidak saya yang bekerja keluar kota harus meninggalkan keluarga, dan putri saya yang masih berumur 2 tahun, dimana masa umur tersebut masih lucu-lucunya anak, saya merasa sedih bersalah dengan hidup berjauhan dari mereka. Tapi bagaimana lagi ini sudah menjadi jalan hidup saya, dari sini saya inggin menyudahi keadaan ini, dengan mencari kerja yang lebih dekat dan bisa berkumpul dengan keluarga setiap hari. Dari sini saya dapat mengambil hikmah dimana kebahagiaan tidak bisa diukur dengan materi, waktu bersama keluarga merupakan sesuatu yang mahal dan tidak bisa dibeli dengan apapun, beruntunglah kamu yang setiap hari bisa berkumpul dengan keluarga, dan bisa menyaksikan anak bertumbuh kembang tanpa melewatkan momen-moen penting, seperti apa yang saya impikan tapi belum terlaksana diantaranta melihat anak bisa merangkak, berjalan, mengucapkan kata pertama, dan bisa mengantar anak masuk sekolah hari pertama, dan masih banyak lainya, Semoga bisa terlaksana secepatnya.

Ditulis Oleh : Agung Prabowo ~ AGP88Blogs

Agung P Anda sedang membaca artikel berjudul Tentang aku, kamu, dan dia II yang ditulis oleh AGP88 yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di AGP88

0 comments:

SMS GERATIS

Back to top