Menteri dan Tukang Becak



" Suasana jadi gemuruh. Tukang becak tersenyum bungah sumringah. Menteri kecut bersungut-sungut. Panas hati dan kepalanya."





"Saya ini menteri!" "Saya ini tukang becak!" Menteri memaki. Tukang becak sama. Itu awal perselisihannya. Masing-masing berkeras minta dilayani segera. Bukan masalah istimewa sebenarnya, cuma soal ban yang bocor terhunus paku. Hanya saja dalam kondisi darurat begini semua jadi merasa perlu diperhatikan. Tak peduli menteri atau tukang becak. "Kurang ajar!" "Kurang asem!"

Menteri maju selangkah. Tukang becak mendekat tak hilang gertak. Nafas-nafas saling terlontar. Terik memanggang kepala. Otak seperti mencair, wajar saja. "Hei, tukang becak!" "Hei, menteri!"

Belum jadi kerumunan, tapi adu mulut ini berhasil menarik perhatian kendaraan dan orang-orang yang lalu lalang. Melirik sambil laju. "Kamu berani ya, menghalang-halangi urusan pejabat negara. Kepentingan rakyat banyak!" "Kamu juga nekat ya, mengganggu urusan pejabat rumah tangga. Kepentingan nyawa keluarga dan istri!" "Hei, jangan membalik-balikkan kata-kataku!" "Biar saja! Saya memang kebalikanmu!" Makin seru! Menteri kian panas hati. Tukang becak pun makin berani. Lelaki penambal ban di sana berdiri bingung. Ada dua ban yang mengundang rejeki untuk diperbaiki. Sepuluh ribu rupiah untuk ban menteri, empat ribu rupiah untuk ban tukang becak. Belum diputuskan mana yang akan ditambal dahulu. "Nih, seratus ribu! Cepat tambalkan ban saya!" uang disodorkan pada penambal ban. "Nih, sepuluh ribu! Saya dahulu!" tukang becak ikutan mengasongi lembar-lembar ribuan. Menteri terkekeh sejadinya. "Mana mau dia diimingi duit secuil itu." "Secuil katamu? Ini penghasilan setengah hari saya! Tapi saya berani melakukan itu. Mestinya kamu juga berani mengiminginya setengah dari penghasilanmu sehari, bukan seratus ribu!" giliran tukang becak mengakak. "Sialan!!!"

Menteri naik pitam. Hendak memukul tapi urung. Tukang becak sudah siap kuda-kuda. Tapi situasi masih terkendali. Kali ini satu dua orang merapat. Tak bertindak hanya mendecak-decak. Baru kali ini mereka melihat menteri dari dekat. "Yakin itu menteri?" bisik-bisik bersahut di antara penyaksi. "Mosok, menteri nyupir sendiri!" "Mungkin ada acara pribadi. Mobilnya juga pribadi." "Kira-kira menteri apa ya?" "Menteri Keadilan! Liat aja ngomongnya kayak pengacara." "Menteri Kemakmuran. Cuma orang makmur yang punya mobil begitu." "Menteri Perawanan Wanita!" "Hush!" "Lha itu ada wanita di dalem mobil!"

Tentu saja percakapan ini tak didengar sang menteri maupun tukang becak. Mereka terlalu mahsyuk pada pertengkaran. Tak sadar jika orang-orang sudah makin banyak mengelilingi. "Satu juta! Saya dulu!" yakin si menteri. Orang di sekitar melenguh. Oooh...!

Satu juta? Sudah tak waras memang. Harga ban mobil baru saja tak sampai segitu. Mungkin itu cuma tarif egonya saja di hadapan tukang becak. Dan memang tepat menusuk pada ego sang tukang becak yang membuatnya mengkerut. Tapi tidak buat si penambal. Ini rezaki nomplok! Susi, pacarnya selalu bermimpi meliliki hape bertivi. Dengan duit segitu bisa saja hal itu terjadi. Lembar-lembar ratusan ribu menari-nari menggoda di depan mata sang penambal. "Ambil! Ambil! Ambil!"

Begitu koor yang terdengar di sekeliling tempat kejadian, dipimpin seorang lelaki gendut yang ternyata masih sepupu tukang tambal ban. Menteri di atas angin. Pikirnya, seberuntung-beruntungnya tukang becak mendapat rejeki, penghasilannya pasti tak kan bisa menyamai deretan uang sebanyak di genggaman sang Menteri.

"Becak...!" pekik tukang becak setelah berpikir lama. Orang-orang di sekitar melongo. Mencoba menunggu apa yang dimaksud dengan pekikannya tadi. "Ambil becak saya, asalkan tambalkan salah satu bannya yang bocor."

Edan...! Tukang becak panas hati juga. Sudah sama hilang kewarasannya. Masak menawar ongkos tambal ban dibayar dengan becak. Terus dia bakal menyisakan apa? "Sudah ada yang nawar tiga juta, tapi ini saya kasih cuma-cuma."

Orang-orang di sekitar berdecak-decak kagum. Sebuah becak untuk membayar ongkos tambal ban. Luar biasa sekali. Padahal itu mungkin kekayaan tertingginya, juga pintu bagi mengalirnya rupiah-rupiah. Tapi tak dipedulikan. Di hadapan menteri harga dirinya tak boleh mati. Meski dirinya hanya seorang tukang becak yang becaknya tak lagi dimiliki.

Salah seorang dari penyaksi yang makin berkerubung, menyeruak ke barisan terdepan. Dalam hening, kemudian dia menaikkan kedua telapaknya di depan dada. Perlahan dipertemukan telapaknya itu membentuk tepukan. Plok! Plok!

"Selama hidup saya, tak pernah saya menyaksikan hal luar biasa seperti ini. Bravo tukang becak!" ucapannya berujung pada anggukan dan tatap saling pandang penyaksi lainnya. Kemudian tepukan menular pada lengan-lengan lainnya. Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! "Ya...! Bravo!" "Bravo tukang becak!" "Viva tukang becak!" "Bravo!” “Viva!” “Bravo!” “Viva!"

Suasana jadi gemuruh. Tukang becak tersenyum bungah sumringah. Menteri kecut bersungut-sungut. Panas hati dan kepalanya. Tak ada di negara manapun baik repubik atau monarki, di mana sang menteri bisa direndahkan oleh rakyat jelata. Menteri adalah sosok istimewa. Hanya sedikit saja di bawah raja atau kepala negara. Artinya penghormatan terhadapnya pun semestinya tak terlalu jauh berbeda. Ini sungguh keterlaluan. Martabat dan wibawana sebagai menteri harus dipertahankan. "Kamu pikir, kamu saja yang bisa edan? Saya juga bisa!" lantang Menteri. Digiringnya mata tukang becak dan para pengerumun pada mobil yang roda bagian depannya bocor. Tangannya lalu menepuk-nepuk lembut kap mobil yang bodynya sama mengkilap dengan kulit bening perempuan muda yang duduk di dalamnya. "Mobil! Hahaha!" Waaaah...!

Kompak serempak wajah-wajah itu berubah melongo. Jangan ditanya bagaimana wajah penambal ban. Berkali-kali kepalanya menggeleng. Tubuhnya serasa melayang hampir oleng. "Mobil ini saya pesan langsung dari Jerman. Kalau dijual, uangnya bisa dibelikan becak lebih dari 200 buah hahaha...!" Weeeh!!!

Seperti dikomandoi orang-orang ikut tertawa. Sebagian hanya mengangguk-angguk penuh senyum, termasuk lelaki pembuat tepuk tangan untuk tukang becak tadi. Sementara si gendut, sepupu penambal ban, terus mengelus-elus bahu saudaranya itu. Seolah sebuah lampu wasiat yang mengeluarkan jin berwujud mobil. Satu-satunya orang yang tampak berbeda cuma tukang becak saja. "Bagaimana? Ada tawaran baru lagi? Hahaha!" Tawanya tak habis-habis. Jujur, tukang becak ini tak lagi punya barang yang lebih berharga selain becaknya. Rumah masih ngontrak, kampung halaman tak punya. Paling-paling cincin mas 5 gram milik istrinya. Pasti tak kan seberapa. Kecuali jika benda yang ditawarkannya nanti bukanlah berbentuk barang. Lalu apa? "Istri!" lantang tukang becak. ISTRI???

Begitulah reaksi yang terlontar dari semua pengunjung serempak. Terkejut dan tak percaya. Wah, wah, wah! Ini memang perlu dipertegas. Tak boleh main-main. Masa istri dijadikan obyek penawaran. Jika tawaran becak dan mobil saja sudah begitu edan, apalagi dengan istri. Ini manusia lho, perempuan! Keterlaluan! Ego tak boleh mudah merusak kewarasan orang. Lebih-lebih hanya untuk persoalan sepele seperti tambal ban ini. "Kamu mau bayar tambal ban pakai istri kamu?" "Ya! Muda, cantik dan belum punya anak. Hahaha!"

Glek! Glek! Glek! Senyap berganti dengan riuhnya ludah para pengerumun yang tertelan. Ternyata banyak pengunjung yang masih waras. Menteri telah kalah edan sepertinya. Diam saja yang dia bisa. Atau mungkin dia tengah menimbang-nimbang tawaran baru. Ini semua tentang ego. Sangat pantang untuk direndahkan. "Kalau setuju, saya bawa istri saya sekarang juga." "Tunggu!"

Wah, ada lagi. Bakal ada keedanan baru lagi sepertinya. Orang-orang pun sama berpikir begitu. Penasaran, meski tak ingin terbawa edan. "Saya tidak pernah melihat istrimu, tapi saya ragu dia akan semuda dan secantik wanita yang berada di dalam mobil itu! Hahaha!" Kontan deretan mata menyerbu tubuh wanita cantik yang samar terhalang kaca riben. Dipelototi begitu, tentu saja wanita itu gelisah dan terintimidasi. "Istrimu?" "Bukan! Selingkuhan." "Hahaha, nilainya jelas masih kalah dengan istri." "Begitu? Bagaimana kalau aku tambahkan satu juta. Selingkuhan dan satu juta!" Wah! "Kamu pikir aku takut? Istri dan cincin mas 5 gram!" Wuih! "Selingkuhan dan uang sepuluh juta!" Yeaaah! "Istri, cincin mas, dan becak!" Yeees! "Selingkuhan, uang dan mobil!" Wooooow! Tepukan meriuh tak terkira. Siang terik yang edan ini makin sempurna dengan lontaran ketakwarasan oleh dua sosok yang telah terpanggang ego. Mata-mata para pengerumun berlariann antara menteri dan tukang becak, ke menteri lagi, lalu berakhir pada tukang becak. "Baiklah deal..." "Deal apa?" "Saya ngaku kalah." "Kalah?" "Ya, silakan bapak menteri tambal ban mobilnya dahulu. Saya kapan-kapan lagi saja. Lagi pula, memangnya saya ini orang edan apa? Mempertaruhkan istri buat bayar ongkos tambal ban. Hahaha!" Hihihi. Hehehe. Huhuhu. Ya, semua yang hadir ikut tertawa. Puas sekali mereka menyaksikan klimaks dari drama ini. Si pembuat tepuk tangan malah sampai menitikkan air mata. Terharu sepertinya. "Sudah saya duga. Engkaulah juaranya, tukang becak! Dan seperti saudara-saudara yang juga hadir di sini saya bersumpah telah menjadi saksi atas tawar-menawar ini. Juga dengan segala konsekuensinya. Menteri harus menyerahkan mobil, uang sebesar sepuluh juta, dan selingkuhannya." "Ya! Serahkan! Serahkan! Serahkan!"

Koor itu membahana. Mengerubung dan menyudutkan sang menteri. Membuatnya terpaksa menyerahkan uang, kunci mobil dan juga selingkuhannya yang menangis meronta-ronta. Penambal ban menerimanya dengan seluruh tubuh yang bergetar. Horeee...!

Diaba-aba oleh sang pembuat tepuk tangan, akhirnya semua turut meniru memberi tepukan. Plok! Plok! Plok! Yah semua sudah terjadi. Tak bisa ditarik mundur apa-apa yang telah dimulakan. Menteri ingin berontak sebenarnya, wajahnya menyisakan raut itu. Tapi di hadapan orang-orang yang berkerumun niatannya itu mesti urung.

"Hei, no hard feeling!" celoteh tukang becak tersenyum-senyum, dan hanya disambut tatapan kesal sang menteri. Sebuah kebodohan yang menyakitkan. "Ah, ya! Pasti bapak tak punya uang lagi, kan? Tenanglah! Saya antar pakai becak saya, gratis! Tapi tunggu sampai bannya ditambal dulu. Hahaha!"

**** Cirebon, Januari 2011

Ditulis Oleh : Agung Prabowo ~ AGP88Blogs

Agung P Anda sedang membaca artikel berjudul Menteri dan Tukang Becak yang ditulis oleh AGP88 yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di AGP88

0 comments:

SMS GERATIS

Back to top