.

Para Pemburu Gaharu dari Asmat

Dalam postingan kali ini saya akan berbagi cerita dari pedalaman papua, tepatnya dari Kabupaten Asmat Papua Barat, sebuah kota kecil degan potensi hutan gaharu yang sudah terkenal sejak masa penjajahan belanda, asmat terkenal juga dengan kota atas air, diakrenakan kota ini dibangun diatas rawa dengan mayoritas rumah pangung dan jembatan dari kayu, mayoritas masyarakat disini berpenghasilan mengantungkan hidupnya dari  hutan dan sungai, dari hutan ada potensi kayu gaharunya yang terkenal dengan kualitas ekspor dan sungainya terkenal dengan ikan-ikan monsternya.
Disini juga terdapat pemburuan buaya dan kura-kura moncong babi dengan nilai ekonomi yang sangat tinggi, namun kali ini saya tidak akan membahas kedua potensi tersebut dikarenakan keduanya merupakan hewan lindung jadi otomatis kegitan tersebut merupakan kegiatan ilegal. Saya akan mengulas tentang potensi kayu gaharu (agar wood) , kayu ini tersebar disemua wilayah hutan asmat, sehingga besar masyarakat mengantungkan hidupnya dari kayu gaharu.
Kayu gaharu sendiri merupakan komoditi eksport dalam bentuk kayu/ cair, kayu ini merupakan bahan dasar dari beberapa produk diantaranya adalah parfum dan dupa, dan masih banyak lagi produk turunan yang dihasilan.
Cerita saya awali dari lokasi perburuan gaharu, masyarakat sini menyebutnya bevak / merupakan kam kecil, dimana masyarakat membangun kelompok kampung kecil yang terdiri dari beberapa keluarja saja, mereka berkumpul masuk kepedalaman huntan untuk berburu kayu gaharu, yang unik dari perburuan ini adalah yang diburu merupakan kayu mati yang sudah lama dan tertimbun tanah lumpur, kedalaman kayu bisa 1 sampai 2 meter dalam tanah. Jadi dalam pencarian mereka mengunakan alat besi/kayu, sebuah alat dari besi/kayu bulat dengan ujung runcing dengan pengait/ seperti ujung mata tombak, alat ini ditancap-tancapkan kedalam tanah berfungsi untuk mencari keberadaan kayu, bila sudah diketemukan keberadaan kayu meraka akan memulai pengalian dengan tangan kosong, dan mengangkat kayu ke atas tanah. Setelah terangkat kayu akan dipikul keluar hutan melewati jalan bantalan yang terbuat dari pohon/rangkaian ranting yang ditumbangkan berjajar memanjang.
Dari sedikit gambaran proses pengambilan kayu gaharu tidak semudah yang dibayangkan, salain beresiko terjatuh dari bantalan dengan beban berat yang bisa berakibat fatal patah tulang, resiko lain dalam perburuan yaitu diserang hewan liar terutama Babi Hutan, Kasuari, dan hewan kecil lainya yang tentunya juga menyiksa seperti Nyamuk, lalat babi, lintah yang sama dengan nyamuk juga menghisap darah.
Dari hasil perburuan masyarakat terkadang pulang dengan tangan kososong, tapi masyarakat tidak perlu kuatir karena biasanya untuk biaya hidup dalam cam akan ditangung pedagang meskipun sistemnya diberikan pinjaman dulu akan dipotong saat ada hasil penjualan kayu. Selain itu untuk konsumsi makan mereka masih bisa mengandalkan alam, dimana mereka masih memangkur sagu, bikin tepung sagu sebagai penganti beras, untuk lauk mereka biasanya berburu hewan  baik burung, ikan, buaya dimalam hari.

Dari segi penghasilan ternyata nominalnya sunguh fantastis bagi saya sebagai pendatang, untuk kayu kualitas biasa atau masyarakat sini menyebutnya TGC dihargai 30-50ribu/kilogram “saya masih meragukan kualitas timbanganya” untuk satu kali angkat biasanya masyarakat maximal mampu angkat 15 kg. untuk kayu hitam, gubal, kayu dengan getah hitamnya biasanya terdapat pada batang kayu, tidak semua kayu gaharu terdapat kayu ini, kelas low atau masyarakat menyebutnya kacangan dihargai 300.00 -500.000/kilogram, untuk kualitas medium perkilonya 20.000.000/kilogram, untuk kualitas super tembus harga 100.000.000/kilogramnya, fantastis bukan untuk sebuah nominal dipedalaman. Pantas bila ini jadi magnet bagi pendatang untuk ikut berburu kayu mulai dari jadi pencari/pedagang.
Dalam system kemasyarakatan masih memegang teguh aturan adat dan kearifan lokal, sehinga dalam pemburuan tidak sampai merusak hutan, selain itu masyarakat juga sadar akan pentingnya melestarikan hutan demi kalangsungan hidup anak cucu mereka. Yang paling unik dari masyarakat yang saya jumpai mereka sangat hormat dan tunduk kepada kepala kampung, ataupun ketua adat.

Cerita Perjalanan Menuju Agast Kota Diatas Rawa Dari Asmat


Kali ini tulisan saya buat berdasarkan kisah perjalanan saya ke Indonesia bagian timur Pulau Papua lebih tepatnya kota Agast ibu kota dari Kabupaten Asmat, awal kisah perjalanan saya berawal dari liburan ke saudara, sekalian melihat potensi alam dan komediti ekonomi disana, saya akan mencoba memaparkan dengan detail gambaran dari kota ini.

Awal perjalanan saya awali dari kota kelahiran saya lamongan, untuk menuju kesana ada dua pilihan alat transportasi, yang pertama malalui udara dari Bandara Juanda Surabaya -  Timika dari Timika kita bisa melanjutkan perjalanan dengan pesawat perintis ke Bandara Agast atau dari timika kita bisa melanjutkan dengan kapal Fery Timika - Agast. yang kedua mengunakan jalur laut yaitu mengunakan kapal fery dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya - Pelabuhan Agast dengan waktu jarak tempuh kurang lebih 9 hari.

Saya memutuskan mengunakan jalus laut dengan kapal fery, dengan pertimbangan tujuan saya berlibur jadi saya banyak waktu tidak tergesa-gesa, dengan mengunakan kapal fery kita bisa lebih mudah bersosialisasi, kita bisa lebih banyak waktu untuk berkenalan dan mencari teman sesama penumpang dan kru kapal dari pada saya harus naik pesawat. dari sisi lain mengunakan kapal fery lebih hemat biaya daipada dengan angkutan udara, kebetulan saya mengambil kelas ekonomi.. maklum sekalian mbolang...

Masih Ingatkah Remaja Sekarang, Dibalik Riwayat 14 Ferbuari Selain Sebagai Hari Kasih Sayang!

Bagi yang merayakan, 14 Februari lebih dikenal sebagai hari kasih sayang. Sebagian orang memang gemar merayakan hari itu sebagai Hari Valentine, baik bersama kekasih maupun keluarga.

Namun, nampaknya hanya segelintir mengingat peristiwa bersejarah pada 14 Februari. Yaitu tentang pemberontakan tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar pimpinan Shodancho Supriyadi.

PETA dibentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang di Indonesia pada Oktober 1943. Mereka merekrut pemuda Indonesia buat dijadikan tentara teritorial guna mempertahankan Jawa, Bali dan Sumatera jika pasukan sekutu tiba.

Bulan Selo dalam penanggalan Islam Zdul Qo'dah, apa Benar bulan Sial?

Note ini semata mata menjawab pertanyaan tetangga, tentang bulan SELO kenapa orang tak mau menikahkan putra putrinya/Banyak bencana, pertanyaan :  “menurut agan Gimana ?”
Menurut kalender Hijriyah, saat ini kita berada di bulan kesebelas, yaitu Dzul Qo’dah. Bulan ini berada di tengah antara bulan Syawal dan Dzul Hijjah. Orang Jawa menyebut bulan ini dengan nama bulan Selo, yaitu antara bulan Syawal dan Besar. Mereka mengartikan bulan ini sebagai bulan sial, karena “selo” berarti “kesesel barang olo” (kemasukan barang yang jelek).

Padahal bulan Bulan Dzul Qo’dah atau Selo ini sebenarnya bukan bulan yang penuh dengan bencana tapi justeru merupakan bulan yang penuh berkah, penuh dengan semangat untuk berbuat baik, sebab ada larangan khusus untuk tidak berbuat dholim selama bulan-bulan mulia (QS. at-Taubah 36), termasuk pada bulan Dzul Qo’dah ini.

Pengartian bulan Selo dengan bulan “seselane ala” (baca olo = kejelekan) tersebut sebenarnya sangat dipengaruhi oleh pemaknaan bulan Dzul Qo’dah, meski terdapat sedikit keterpelesetan. Kata “qo’dah” berasal dari kata “qo’ada” yang artinya duduk. Yang dimaksud duduk dalam penamaan ini adalah duduk untuk merenung dan berdzikir. Dari makna ini maka orang Jawa menyebutnya Siloan (baca silo = duduk bersila, seperti kebiasaan orang yang berdzikir). Dan lambat laun sebutan Siloan bergeser menjadi Selo.

Dalam sejarah Islam disebutkan bahwa terdapat larangan khusus bagi umat Islam untuk berbuat dhalim atau berperang di bulan-bulan tertentu, tepatnya adalah bulan-bulan mulia (ayhurul hurum), sebagaigaimana difirmankan Allah: “Mereka bertanya tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: ‘Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar …’ “ (QS. al-Baqarah: 217); “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan Haram … “ (QS. al-Maidah: 2).

Perlunya kita sebagai umat islam senantiasa berpegang pada ajaran Islam yang benar  dan sempurna, seperti yang terdapat dalam al quran surat   Al-Baqarah [2]: 208-209
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Para ulama salaf sangat memahami arti Dzul Qo’dah atau Selo sebagai bulan untuk bersila untuk berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Mereka bahkan memanfaatkan bulan ini dengan membaca aurat (bacaan wirid) tertentu, seperti dalam anjuran berikut:

Bagi yang ingin memperoleh keutamaan bulan ini, hendaknya mandi sunnah pada hari pertama, kemudian berwudhu’ dan melakukan shalat sunnah empat rakaat (2 kali salam). Setiap rakaat sesudah Fatihah, membaca Surat Al-Ikhlas (3 kali), An-Nas (3 kali) dan Al-Falaq (sekali). Seusai shalat membaca Istighfar (70 kali), kemudian membaca: Lâ Hawla walâ quwwata illâ billâhil ‘aliyil ‘azhîm. (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung), Yâ `Azîzu yâ Ghaffâru, ighfirlî dzunûbî wa dzunûba jamî`il mu’mîna wal mu’minât. Fainnahu lâ yaghfirudz dzunûba illâ Anta. (Wahai Yang Maha Mulia, wahai Yang Maha Pengampun, ampuni dosa-dosaku dan dosa-dosa mukminin dan mukminat, tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau).

Syeikh Ali bin Ibrahim berkata: Sungguh pada bulan-bulan yang mulia keburukan dilipatgandakan demikian juga kebaikan. Tanggal 11 Dzul Qaidah 148 H adalah hari kelahiran Imam Ali Ar-Ridha. Malam tanggal 15 Dzul Qa`idah adalah malam yang penuh berkah, sebab pada malam itu Allah memandang hamba-hamba-Nya yang mukmin dengan rahmat-Nya, memberi seratus pahala kepada orang yang beramal dalam ketaatan kepada Allah, juga kepada orang yang berpuasa yang hatinya selalu terkait dengan masjid dan matanya tidak bermaksiat kepada Allah, khususnya di dalam masjid Nabawi. Karena itu, hendaknya menghidupkan malam itu dengan ibadah, ketaatan, shalat dan doa kepada Allah.

Itu hanya sekedar contoh dari setumpuk buku kumpulan doa-doa dan cara bermunajah yang menjadi kebiasaan para ulama salaf di bulan Dzul Qo’dah atau Selo. Namun, sampai saat ini ternyata pemahaman bulan ini sebagai bulan sial dan bencana masih tetap lestari di tengah-tengah masyarakat, khusunya Jawa. Meski sebenarnya merupakan suatu pemahaman yang telah mengalami pergeseran dari makna yang dipahami oleh para leluhur Jawa sendiri. Yang lebih parah lagi, pemahaman ini dimanfaatkan oleh segelintir orang yang menyukai jalan pintas untuk meraih kesuksesan dengan meminta bantuan dukun, justeru menggunakan bulan ini sebagai bulan penebusan dan menyajian persembahan. Dan lebih parah lagi hal ini dilakukan dengan mengorbankan orang lain.

Saya mencoba menyimpulkan:
  1. Bulan zdul Qo’dah adalah bulan yang dimuliakan Allah swt, maka menjadikan dzul qo’dah sebagai bulan selo (kesesel barang olo) sangat tidak elok menurut tataran Islam, karena Allah telah memuliakan bulan dzul qo’dah
  2. Kembalikan esensi keberagamaan kita, jangan kita memposisikan diri kita dalam beragama terkalahkan dengan kebiasaan yang jelas jelas tak menguntungkan agama.
  3. Kemungkinan pengertian SELO itu adalah SILO artinya saat bulan dzul Qo’dah kita harus rajin berzikir karena akan datang bulan Dzul Hijjah (berhaji)
  4. Lakukan aktifitas atau ceremonial apa saja termasuk menikahkan anak anak kita pada bulan dzul qo’dah tak ada jeleknya menurut ajaran islam.
  5. Keberpihakan kita pada ajaran yang Haq (islam secara Kaffa), maka keimanan kita akan sempurna tanpa rasa takut selain kepada Allah.
  6. Semua bencana bala akan datang pada semua manusia, yang tujuan tak lain agar kita manusia lebih beriman dan bertaqwa.

Top 10 Programmer Terbesar di Dunia Sepanjang Sejarah

Top 10 Programmer Terbesar di Dunia Sepanjang Sejarah
1. Dennis Ritchie
Dennis MacAlistair Ritchie adalah seorang ilmuwan komputer yang dikenal atas sumbangsihnya membuat bahasa pemrograman C dan berbagai sistem operasi seperti Multics dan Unix. Wikipedia
Lahir: 9 September 1941, Bronxville, New York, Amerika Serikat
Meninggal: 12 Oktober 2011, Berkeley Heights, New Jersey, Amerika Serikat
Pendidikan: Universitas Harvard
Buku: The C Programming Language
Penghargaan: Penghargaan Turing

Mengelola Uang Ala Keturunan Tionghoa

Dwita Ariani, MM. RFARIFATwitter: @BundaWita
Financial educator dari Zelts Consulting
Sekitar 7 dari 10 orang terkaya di Indonesia dan beberapa negara di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Filipina adalah keturunan Tionghoa. Tentu kesuksesan mereka tak lepas dari latar belakang budayanya.

Valentine Dalam Sudut Pandang Islam

Sebentar lagi tanggal 14 Februari, satu hari ini setiap tahunnya merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak remaja, baik di negeri ini maupun di berbagai belahan bumi lainnya. Sebab hari itu banyak dipercaya orang sebagai hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Itulah hari Valentine, sebuah hari di mana orang-orang di barat sana menjadikannya sebagai fokus
untuk mengungkapkan rasa ‘kasih sayang’, walau pun pada hakikatnya bukan kasih sayang melainkan hari ‘making love’.

Dan seiring dengan masuknya beragam gaya hidup barat ke dunia Islam, perayaan hari valentine pun ikut mendapatkan sambutan hangat, terutama dari kalangan remaja ABG. Bertukar bingkisan valentine, semarak warna pink, ucapan rasa kasih sayang, ungkapan cinta dengan berbagai ekspresinya, menyemarakkan suasana Valentine setiap tahunnya, bahkan di kalangan remaja muslim sekali pun.

Mengenal Budaya Santet dan Penangkalnya Dari Segi Sains

Hello gan..kali ini saya akan mencoba membahas tentang ilmu santet, dari hasil googling dan beberapa sumber lainya. Santet atau teluh merupakan upaya seseorang untuk mencelakai orang lain dari jarak jauh dengan menggunakan ilmu hitam. Santet dilakukan menggunakan berbagai macam media antara lain rambut, foto, boneka, dupa, rupa-rupa kembang, dan lain-lain. Seseorang yang terkena santet akan berakibat cacat atau meninggal dunia. Santet sering di lakukan orang yang mempunyai dendam kepada orang lain. Dilihat dari segi sains-nya gan.. Perkembangan penelitian Quantum Teleportation selama lima tahun terakhir membuat banyak ilmuwan makin percaya bahwa teknologi teleport dalam film Star Trek dapat diwujudkan. Tahun 2007, para ilmuwan baru bisa mengkondisikan material di satu tempat dengan material di tempat lain. Tahun 2011, para ilmuwan telah berhasil mengirimkan partikel photon hingga mencapai jarak 89 mil.

Kini negara-negara maju tengah bersaing untuk menjadi negara pertama yang menemukan teknologi teleport. Untuk sementara saat ini, China yang memimpin persaingan.

Buya Hamka Dalam Kenangan

Mengenang ulama kharismatik Indonesia Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, Koran-Cyber.com menurunkan tulisan bersambung yang ditulis Dasman Djamaluddin, wartawan senior media online ini. Buya Hamka yang sangat banyak menulis buku sastra dan agama, selayaknya menjadi panutan bagi generasi muda Indonesia. Beliau belajar secara otodidak, fasih berbahasa Arab, disegani kawan dan lawan. Walau cukup lama, Pemerintah RI akhirnya mengangkat beliau sebagai Pahlawan Nasional bersamaan dengan Syafruddin Prawiranegara. Apa kiprah Hamka bagi kemerdekaan Indonesia dan siapa saja lawan-lawan politiknya? Mari kita simak salinan tulisan Dasman Djamaluddin berikut ini:

Fenomena Polemik Film Tengelamnya Kapal Van Der Wijck


1.200.000 penonton dalam 15 hari !!! Wow !!! Seperti itulah pencapaian Soraya Films yang dikutip dalam akun instagram-nya !!! Luar biasa bukan !!!

Film yang dipersiapkan dalam waktu kurang lebih 5 tahun dengan dana yang besar 20 M, untuk ukuran Indonesia itu sangat besar ! Tak sia-sia !

Film yang bagus dengan lantunan "gombalan" syair sastra yang syahdu dalam romansa dua anak manusia Hayati dan Zainuddin di awal-awal film membuat sebagian besar anak ABG jaman ini bergidik malu seperti tak biasa mendengarnya !

Komputer Tertua di Dunia

Komputer ini berbobot 2,5 ton. Dipamerkan di museum Inggris.Komputer digital tertua yang pernah dioperasikan di dunia dipamerkan di Museum Nasional Kumputer di Inggris. Komputer berbobot 2,5 ton ini berhasil dihidupkan lagi setelah upaya pembenahan selama tiga tahun.
Pada 1950-an, komputer ini digunakan sebagai pendukung kerja pada program penelitian energi atom Inggris Raya. Komputer yang telah 15 tahun mendekam di gudang kota ini ditemukan secara tidak sengaja.
Desain dan konstruksi komputer ini dibangun pada 1949. Dibuat untuk ilmuwan yang bekerja pada pembangunan penelitian energi atom Inggris di Harwell, Oxfordshire. Awalnya, komputer ini diciptakan untuk meringankan tugas penghitungan secara elektrik yang sebelumnya dilakukan dengan menambahkan mesin.
Mesin ini pertama kali dioperasikan pada 1951 dan dikenal dengan Harwell Dekatron. Meski bekerja dengan lambat--mesin ini memerlukan waktu 10 detik untuk mengalikan dua angka--mesin ini terbukti sangat handal dan sering bekerja selama 80 jam dalam seminggu.

Sejarah Indonesia Dari Masa-Kemasa

Pendahuluan
Sejarah Indonesia meliputi suatu rentang waktu yang sangat panjang yang dimulai sejak zaman prasejarah oleh “Manusia Jawa” pada masa sekitar 500.000 tahun yang lalu. Periode dalam sejarah Indonesia dapat dibagi menjadi lima era: era pra kolonial, munculnya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha serta Islam di Jawa dan Sumatera yang terutama mengandalkan perdagangan; era kolonial, masuknya orang-orang Eropa (terutama Belanda) yang menginginkan rempah-rempah mengakibatkan penjajahan oleh Belanda selama sekitar 3,5 abad antara awal abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20; era kemerdekaan, pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1945) sampai jatuhnya Soekarno (1966); era Orde Baru, 32 tahun masa pemerintahan Soeharto (1966–1998); serta era reformasi yang berlangsung sampai sekarang.

Prasejarah
Secara geologi, wilayah Indonesia modern muncul kira-kira sekitar masa Pleistocene ketika masih terhubung dengan Asia Daratan. Pemukim pertama wilayah tersebut yang diketahui adalah manusia Jawa pada masa sekitar 500.000 tahun lalu. Kepulauan Indonesia seperti yang ada saat ini terbentuk pada saat melelehnya es setelah berakhirnya Zaman Es.

Wisata Pinggiran "Makam Nyi Andongsari"

Konon di Lamongan terdapat makam ibunda dari Patih yang tersohor dari Kerajaan Majapahit Patih Gajah Mada. Makam tersebut sering disebut makam Mbah Ratu. Makam Mbah Ratu tersebut dapat di akses melalui rute jalan propinsi Babat Jombang.

Desa Cancing berada di tengah hutan jati di wilayah Kecamatan Ngimbang, terdapat bukit yang cukup tinggi sekitar 100 meter berada di sebelah selatan jalur jalan desa Girip Cancing. Bukit yang cukup sejuk karena dinaungi oleh beberapa pohon jati dan jenis fiscus. Tepat diatas bukit terdapat bangunan yang mirip padepokan yang disalah satu bangunan tersebut terdapat Makam Dewi Andong Sari yang merupakan ibunda dari mahapatih Gajah Mada.

Bangunannya sangat terawat dan bersih yang setiap hari dikelola dan dirawat oleh Mbah Sulaiman seorang juru kunci dari Makam tersebut. Inilah bukti fisik akan keberadaan asal usul Gajah Mada. Menurut Mbah Sulaiman keberadaan makam tersebut adalah sebuah bukit yang dulunya merupakan petilasan dari Dewi Andong Sari yang diusir dari Majapahit karena irihati dari permaisuri Dara Petak dan dara Jingga karena dikhawatirkan memiliki seorang putra. Dibukit inilah tempat Dewi Andongsari menjalani hari-harinya sampai akhirnya melahirkan, namun sayang meninggal seketika, sehingga Joko Modo sewaktu kecil tidak mengenal ibunya. Dewi Andongsari dimakamkan di situ dan sampai sekarang masih dijaga dan dirawat dengan baik.
Cerita rakyat Ngimbang, Modo dan sekitarnya tentang masuknya Majapahit
Sekelompok prajurit tersebut mendapat tugas rahasia untuk menyingkirkan (mungkin membunuh) Dewi Andong Sari, tapi karena suatu hal Dewi Andong Sari tidak dibunuh melainkan hanya disembunyikan disuatu desa yang terletak di dalam hutan jauh daripusat pemerintahan majapahit.

Diawal berdirinya Majapahit, yaitu pada akhir abad XIII M, didesa Cancing (sekarang masuk kecamatan Ngimbang) kedatangan sekelompok prajurit Majapahit yang sedang mengiringkan garwo selir Raden Wijaya yang sedang mengandung selir raja tersebut bernama Dewi Andong sari.

Lokasi : Desa Cancing, Kec. Ngimbang (Rute Babat Jombang)

Pengunjung yang baik adalah yang meningalkan jejak, kalau berkenan follower-nya di isi.

Fenomena Supermoon

Ups, ini bukan Superman. Ini adalah "Supermoon". Supermoon adalah fenomena ketika Bulan tampak lebih besar dari biasanya akibat kedekatannya dengan Bumi. Supermoon akan bisa dilihat Sabtu (19/3/2011) malam. Bulan akan tampak 7 persen lebih besar dari biasanya.

Supermoon sendiri bukanlah istilah dalam astronomi, melainkan dalam astrologi. Kalangan astrolog biasanya mengidentikkan supermoon dengan kekuatan jahat atau bencana. Seorang astrolog bernama Richard Nolle, misalnya, memperkirakan bahwa supermoon kali ini akan menimbulkan bencana gunung berapi dan badai.

Kabar yang beredar di internet juga menyebut bahwa supermoon yang akan terjadi esok berkaitan dengan bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Jepang Jumat (11/3/2011) lalu. Namun, hal tersebut ditampik oleh para astronom dengan mengatakan efek supermoon sangatlah kecil.

Dalam dunia astronomi, Bulan bisa berada di titik terjauh dan terdekat dengan Bumi. Titik terjauh dikenal dengan apogee, sedangkan titik terdekat dikenal dengan perigee. Saat Bulan mencapai titik terdekat atau perigee inilah, fenomena yang dikenal dengan supermoon terjadi.

Publikasi space.com menyebutkan, Bulan akan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi dalam kurun waktu 18 tahun terakhir. Bulan "hanya" 356,577 kilometer dari Bumi. Ini 30.000 kilometer lebih dekat dengan jarak rata-rata Bumi-Bulan biasanya yang berkisar 382.900 km.

Berdasarkan waktu Indonesia, jarak terdekat Bumi-Bulan tersebut akan terjadi pada Minggu (20/3/11) dini hari pada pukul 02.10 WIB. Puncak purnamanya sendiri bisa dinikmati pukul 01.11 atau 59 menit sebelum jarak terdekat Bumi-Bulan dicapai.

Bulan yang istimewa ini takkan bisa dinikmati langsung dengan mata telanjang. Untuk membedakan "kegemukannya", harus digunakan teleskop. Untuk menikmatinya pemandangan terbaik ini, seseorang juga mesti memlih lokasi yang lapang dan gelap hingga cahaya Bulan bisa lebih terang.

Akibat kedekatannya, maka Bulan akan sedikit memengaruhi kondisi di Bumi. Misalnya meningkatnya gelombang pasang yang terjadi akibat gaya tarik Bulan yang sedikit lebih besar. Bagi nelayan, kondisi ini perlu diwaspadai dan sebaiknya tak melaut.

Pengaruh lain adalah meningkatnya aktivitas seismik dan gunung berapi. Namun, sekali lagi efeknya sangat kecil. Jim Garvin dari Goddard Space Flight Center NASA di Greenbelt bahkan mengatakan, "Super dalam supermoon hanyalah karena penampakan yang lebih dekat."

Apa pun itu, menikmati fenomena alam yang jarang terjadi tentunya mengasyikkan.

Rujukan Aksara "Lontarak"

MARIA SERENADE SINURAT - Muhammad Salim adalah bukti hidup bahwa penghargaan datang bukan karena gelar dan jabatan, tetapi karena karya berkelanjutan. Hampir sepanjang hidup ia menekuni ”lontarak”, naskah kuno beraksara Bugis-Makassar. Dia menghidupkan dan memaknainya kendati ini kerja sunyi tanpa banyak imbalan.

Kami bertemu di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, tempat Salim ”bekerja” yang tak memberinya honor empat tahun terakhir. Dengan semua itu, ia bersetia mengawal pendokumentasian lontarak dari seluruh penjuru Sulsel.

Lontarak adalah kehidupan Salim. Aktivitas menyalin lontarak ke huruf Latin (transliterasi) lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia (translasi) ibarat menu hariannya. Dalam sehari ia menghabiskan dua hingga tiga jam untuk menyalin lontarak, termasuk Lontarak Enrekang, proyek yang baru dia mulai.

Meski demikian, yang membuat nama Salim diperhitungkan hingga mancanegara tentulah Sureq Galigo. Dia terpilih dalam Proyek Transliterasi dan Terjemahan Sureq Galigo yang digagas Universitas Leiden, Belanda, tahun 1987. Ia mulai bekerja tahun 1988 dan membutuhkan waktu 5 tahun 2 bulan untuk menerjemahkan hikayat penciptaan peradaban manusia di Sulsel itu.

Naskah I La Galigo di Universitas Leiden memiliki tebal sekitar 6.000 halaman. Arung Pancana Toa-lah yang memberikan naskah ini kepada orang Belanda, BF Matthes. Naskah di Leiden termasuk kisah paling lengkap kendati belum sepenuhnya selesai. Sebenarnya masih banyak lontarak yang terserak dan belum ditemukan.

Tidak mudah menerjemahkan I La Galigo, karya sastra terpanjang yang berabad-abad ”tertidur”. Salim tak sekadar membaca teks, tetapi juga konteksnya. Galigo merupakan karya sastra yang khas dengan pola pengejaan lima-lima, seperti: i-la-ga-li-go dan sa-we-ri-ga-ding.

Melalui pergulatannya, Salim menemukan Sureq Galigo juga menggunakan bahasa Bugis klasik dan Sanskerta, contohnya pada Sangiangserri yang artinya Dewi Padi. ”Dalam Sanskerta, dikenal Sang Hyang Sri, yang juga Dewi Padi.”

Dalam penerjemahan, ia membutuhkan tiga kamus sekaligus, yakni bahasa Bugis-bahasa Belanda lama, bahasa Belanda lama-bahasa Melayu lama, dan bahasa Melayu lama-bahasa Indonesia.

Penerjemahan Galigo memang melelahkan. Ruang kerja di rumah panggungnya berupa bilik. Sejak pukul 08.00 hingga 17.00 ia menekuni aksara kuno. Di sebelah meja kerja, ada kasur untuk Salim beristirahat sewaktu-waktu.

Honor transliterasi kala itu 5 dollar AS per lembar, sedangkan translasi 8 dollar AS per lembar. ”Uangnya saya pakai untuk beribadah haji. Saya tak suka beli barang,” tuturnya.

Mendunia

Nama Salim ikut mendunia bersama ”terbangunnya” I La Galigo. Mata dunia memandangnya seakan dia baru muncul. Padahal, jauh sebelumnya ia sudah tenggelam dalam dunia lontarak. Lahir dan besar di Pangkajene, Sidenreng Rappang, Sulsel, ia terbiasa membaca lontarak.

Pada masa lalu masyarakat menuliskan kisah dalam aksara lontarak. Apa pun bisa diceritakan; ilmu perbintangan, hubungan suami-istri, silsilah keluarga, pantangan, doa-doa, hingga nyanyian. Salim kecil belajar membaca lontarak dari neneknya.

Kemampuan ini terasah saat ia masuk pesantren di Allakuang, Sidenreng Rappang (Sidrap). Dia bergurukan KH Muhammad Yafie dan Muhammad Abduh Pabbajah. Murid-murid di sini terbiasa menerjemahkan Al Quran dalam bahasa Arab ke bahasa Bugis. Semuanya ditulis dalam huruf lontarak.

Seperti telah digariskan, hidup Salim tak pernah jauh dari lontarak. Lulus Sekolah Guru Bawah (SGB), ia mengajar pelajaran bahasa Bugis di satu-satunya sekolah menengah pertama di Pangkajene selama delapan tahun.

Berselang setahun, ia menempuh pendidikan guru sekolah lanjutan jurusan Bahasa Bugis di Makassar. Dia lalu ditarik ke kampung halaman, menjadi Kepala Dinas Kebudayaan Sidrap pada 1971.

Dengan posisinya itu, Salim kian gencar memopulerkan lontarak bagi pelajar. Ia mendorong penerbitan buku cerita rakyat dalam huruf lontarak untuk tingkat sekolah dasar dan buku nyanyian untuk tingkat SMP. Satu buku cerita bisa ditukar dengan satu liter beras atau satu kelapa bagi keluarga yang tak punya uang.

Tahun 1980, saat menjadi staf Dinas Permuseuman, Sejarah, dan Kepurbakalaan Sulsel, ia berkesempatan menyelami naskah kuno. Ia lalu menggagas proyek pengumpulan lontarak. Ia menjelajahi seluruh kabupaten di Sulsel hingga Kabupaten Selayar ”berburu” lontarak.

Proyek ini bertujuan mendokumentasikan lontarak di Sulsel dan menerjemahkannya. ”Banyak sekali lontarak berisi pengetahuan yang bisa diterapkan sampai kini, seperti pengobatan dan pertanian,” ujarnya.

Dari perburuan itu, Salim mengumpulkan lebih dari 100 lontarak. Semua tersimpan rapi di Yayasan Kebudayaan Sulsel. Beberapa lontarak sudah disalin ke huruf Latin dan sejumlah kecil diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Namun, banyak yang tak diterbitkan karena kurangnya dana.

Harta karun sejarah ini lebih menarik minat peneliti asing. Bahkan I La Galigo pun diterjemahkan tanpa bantuan uang Pemerintah Indonesia.

Tanpa gelar

Salim menjadi rujukan siapa pun yang meneliti lontarak. Ia masih bersemangat bicara tentang lontarak.

Ia percaya, pengetahuan juga digembleng karena pengalaman. Dia bukan profesor, tetapi kefasihannya memaknai lontarak membuatnya bertemu para profesor asing. Mereka takjub melihat orang yang menghidupkan kembali epos Sawerigading adalah pria sederhana.

Dalam hati, Salim tetap merasa sebagai guru. Ia ingin menularkan ilmunya kepada banyak guru dan mahasiswa. Untuk itu dia mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. Dia juga bertahan di Yayasan Kebudayaan Sulsel. Padahal. bisa dikatakan yayasan ini bangkrut, tak ada uang dan peneliti. Beberapa buku penting terkait sejarah di kawasan timur Indonesia diambil alih Arsip Nasional.

Yang tersisa dari yayasan adalah lontarak, pekerja berhonor kecil, dan Salim. Kendati demikian, yayasan ini telah menjadi ”rumah” bagi Salim yang setia dengan Vespa tuanya. Hanya bila hujan deras saja dia urung datang. ”Khawatir Vespa-nya mogok,” kata pria bercucu tujuh dan bercicit satu ini.

Warisan Salim ialah penerjemahan I La Galigo, dan dunia patut berterima kasih kepadanya.

Tambangan, Jejak Peradaban Brantas (2)

Namun ada juga yang berukuran cukup besar, sehingga bisa menyeberangkan mobil seukuran pikap ukuran kecil (Suzuki Carry 1.500 cc) atau Toyota Kijang, termasuk milik Nohan, pengelola tambangan.

"Ada teori, perjalanan perahu di Sungai Brantas ini bahkan menyusuri sepanjang alur Brantas dari Blitar hingga Surabaya. Itu antara lain menjelaskan mengapa ada gambar relief perahu di Candi Penataran di Blitar"

Para penyeberang atau penumpang perahu ini adalah warga setempat yang memerlukan perjalanan lebih singkat dari Rejotangan (Tulungagung) ke Srengat (Blitar).

Sebenarnya kedua wilayah dihubungkan jalan raya Blitar Tulungagung, namun bagi pengguna tertentu cukup jauh jarak yang harus ditempuh jika mereka harus menyeberang lewat jembatan.

Sebab posisi jalan di lokasi ini membujur sejajar dengan posisi sungai. Jika orang hendak ke seberang sungai, maka harus berkendaraan menuju titik persinggungan sungai dan jalan berupa jembatan.

Selisih antara melewati jembatan dengan jarak jika naik perahu tambangan ini sampai 12 km. Untuk warga Rejotangan yang bekerja di Srengat di seberang dan menempuh perjalanan setiap hari, jarak itu terlalu jauh.

"Biaya menyeberang dengan tambang Rp 1.000 satu sepeda motor dengan satu pengemudi, atau Rp 1.500 jika ada pembonceng, cukup murah dibanding harus memutar lewat jembatan," tutur Huri (43), pengelola perahu tambang lainnya.

Organisasi kerjanya sederhana saja. Perahu tambang ini kini sepenuhnya merupakan kegiatan ekonomi. Perahu tambang dikelola sebuah kelompok yang bergiliran jaga, atau giliran kerja.

Lantaran banyaknya orang yang memerlukan pekerjaan dan nafkah, di perahu tambangan milik Huri misalnya, setiap orang peserta hanya mendapat giliran kerja tiga hari seminggu, dari tiga shift kerja 24 jam.

Ini agar semua mendapat kesempatan mencicipi rejeki perahu tambangan. Kelompok Nohan, bernama KT (Kelompok Tambangan) Margo Joyo, beranggotakan 11 orang.

Setiap shift ada tiga orang yang bekerja. Seorang mengendalikan dayung, sebagai kendali perahu. Dua orang lainnya, memegang tali, yang disebut tambang dalam Bahasa Jawa, dan menjadi asal nama tambangan itu.

Tali atau tambang inilah yang mengikat perahu, supaya perahu tak akan pernah bergeser dari tempatya. Ada dua tali. Satu yang berada sedikit di at as permukaan air, yang menjulur menyeberang sari sisi sungai satu ke sisi sungai lain. Berfungsi sebagai pegangan dua operator pendorong tenaga.

Satu tambang lainnya berupa kawat baja, yang berfungsi sebagai semacam rel, dengan roda yang terus berjalan b olak-balik sepanjang proses penyeberangan.

Kawat baja lainnya menghubungkan as roda dengan badan perahu. Ini menjadikan perahu tak pernah bergeser lokasinya, sehingga bisa merapat tempat ke lokasi dua dermaga di masing-masing sisi sungai.

Dewasa ini perahu-perahu yang semula dari bahan kayu, telah berganti dengan perahu besi. Badan perahu berlunas tunggal, bertindak sebagai semacam ponton.

Lambungnya dari bahan besi yang lebar, seperti struktur kapal feri roll on roll off (ro-ro). Baru sekitar setahun terakhir perahu ini dibuat, dengan biaya Rp 100 juta, dikerjakan di bengkel setempat.

Menurut Nohan, sebagai pemimpin kelompok, dirinya mewarisi bisnis ini dari ayahnya, yang kini karena sudah tua hanya sesekali ikut bekerja. Ayahnya itu, Pak To, juga mewarisinya dari kakek Nohan.

"Jadi ini turun temurun di keluarga kami. Selain ayah, kakak ipar saya juga bekerja disini. Jadi ini bisa disebut usaha keluarga, ditambah warga desa lainnya," kisahnya.

Artinya, perahu tambangan ini dengan demikian telah membentuk adaptasi teknologi, yang pasti amat berbeda dibanding teknologi tambangan zaman Majapahit. Namun ini tetap budaya yang sama dengan era itu. Adaptasi lainnya tentulah organisasi pengelolanya, yang kini berkembang sebagai usaha ekonomi kelompok warga.

Sungai Brantas yang diyakini sangat penting sebagai pilar dua peradaban di wilayah ini, kerajaan Singosari disusul Majapahit, pasti kegiatan tambangan ini dulunya merupakan alat transportasi utama.

"Ada teori yang mengemukakan perjalanan perahu di Sungai Brantas ini bahkan menyusuri sepanjang alur Brantas dari Blitar hingga Surabaya. Itu antara lain menjelaskan mengapa ada gambar relief perahu di Candi Penataran di Blitar," kata arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono.

Tambangan ini seperti menjelaskan tanda tanya, mengapa pada relief candi yang berdiri di kaki Gunung Kelud itu bisa ada gambar perahu. Relief itu bukan sekedar gambaran perahu kecil seperti perahu tambangan ini, namun malah perahu dengan deretan pendayung berjumlah 12 orang berderet di tepian perahu, ditambah gambar layar di atas perahu.

"Jika kita melihat sisa peradaban perahu seperti saat ini, maka bisa jadi dulunya di atas Sungai Brantas ini adalah pelabuhan besar dengan kapal-kapal besar, dengan layar besar, dengan bobot mati hingga puluhan ton," kata Dwi.

Jangan-jangan pula, para keluarga pengelolanya saat ini masih berhubungan dengan orang-orang yang dulu bergelar wwang anambangi di era Majapahit. Tidak itu saja.

Di lokasi tambangan itu mudah dijumpai berbagai benda purbakala seperti lumpang batu yang berada di tepi sungai. Ini bisa membawa tafsir lebih luas, tentang peradaban di tepian Brantas.

Yakni, sebuah masyarakat agraris (lumpang batu, tanda alat pengolahan biji-bijian hasil panen), namun telah melakukan kegiatan produksi yang ditransportasikan hingga ratusan kilometer, boleh jadi sampai ke pesisir utara di pantai Surabaya masa kini. Pertanyaannya, lalu produksi apa yang ditransportasikan zaman itu?

Bila sungai sedang tenang, di siang hari yang terik, di atas air hening dan tenang, sungguh menyenangkan menaiki perahu tambangan ini.

Pengemudinya pasti bekerja sembari menyetel radio transistor yang memperdengarkan gending-gending gamelan Jawa dari siaran radio amatir di Blitar dan Tulungagung.

Mungkin Raja Hayam Wuruk pernah melintasi sungai ini naik perahu seperti yang sedang kita alami. Mungkin Ken Arok juga, bersama istrinya yang terkenal cantik itu, Ken Dedes. (TAMAT)

Penulis: Doddy Wisnu Pribadi

-Tambangan, Jejak Peradaban Brantas (1)

Tambangan, Jejak Peradaban Brantas (1)


Oleh: Doddy Wisnu Pribadi

Budaya baru terbentuk menggantikan budaya lama. Tetapi di atas permukaan air Sungai Brantas di Kabupaten Blitar dan Tulungagung, Jawa Timur, masyarakat ternyata masih memanfaatkan kebiasaan kuno: menyeberang sungai dengan perahu.

Sungguh menarik mengamati betapa penyeberangan Sungai Brantas mengunakan perahu yang disebut tambangan, diyakini sudah ada sejak zaman Majapahit. Tambangan sebagai sarana transportasi telah melintasi ujian adaptasi sosial dan adaptasi teknologi selama sekian abad.

Musim hujan yang berkepanjangan tahun lalu dan berlanjut hingga sekarang (juga disebut cuaca ekstrim), menjadikan debit air Sungai Brantas kini lebih besar. Warga menyatakannya, banyune kimplêh-kimplêh. Air melimpah.

Arus air deras, meski tak sampai bergelora. Seperti halnya Sungai Bengawan Solo di Jawa, Sungai Brantas hilir di Blitar sudah membentuk dasar sungai yang dangkal melebar seperti piring, bukan berpalung berjurang seperti mangkuk.

Ini terjadi akibat proses aluviasi, terikutnya bahan-bahan sedimen gunung mendangkalkan dasar sungai. Meski deras dan dalam oleh karena debit yang besar, arus air tetap tenang. Air tidak bergolak seperti sungai-sungai semacam Pekalen Sampean di wilayah timur Jawa Timur sehingga bisa dijadikan arena olah raga arung jeram.

Namun, justru berakar pada kondisi struktur fisik sungai semacam inilah, tradisi dan kebudayaan menyeberang sungai dengan perahu tambangan ini bisa terbentuk. Tambangan ini tak mungkin dioperasikan di sungai dengan air yang bergolak-golak.

*** SITUS resmi Pemerintah Kabupaten Tulungagung tidak mengutip sumbernya, menyebutkan, di era Majapahit (abad ke-14 sampai dengan ke-15), peradaban masa itu telah mengelola dan menata kegiatan penyeberangan ini. Para tukang tambang zaman itu, disebut Wwanganambangi, telah diorganisasi dengan rapi.

Tidak itu saja. Salah satu sentra kegiatan tambangan di zaman ini berada di Desa Majang, Kecamatan Tulungagung, kata Suprijanto, di situs Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga, Pemerintah Kabupaten Tulungagung.

Bisa jadi ini berhubungan dengan istilah jenis perahu payangan yang hingga kini merupakan sebutan bagi nama perahu besar penangkap ikan di desa-desa nelayan pantai selatan Jawa.

Ada belasan jasa perahu tambangan masa kini yang masih tersisa namun beroperasi penuh. Di antaranya, di Desa Pundensari, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung yang dioperasikan Nohan, laki-laki 30-an tahun, pemimpin kegiatan perahu tambangan ini yang dikelola sebuah kumpulan orang, sejenis kerjasama bisnis.

Tempat perahu ini beroperasi bisa ditemukan di ruas jalan raya Rejotangan, ruas jalan Blitar Tulungagung. Pada jarak tertentu di sepanjang jalan akan tampak papan pemberitahuan bergambar perahu, dan bertuliskan tambangan. Bisa ada tambahan tulisan, "24 Jam Roda 2 dan bisa ditambah Roda 4." (Bersambung)

Telah ditemukan spesies baru Tarsius Purba

Para ilmuwan berhasil menemukan spesies baru tarsius purba yang hidup kira-kira 13 juta tahun yang lalu. Mereka menyadari fosil tulang rahang tarsius yang ditemukan merupakan spesies baru karena kunikannya dibandingkan tulang hewan sejenis. Spesies tarsius itu dinamai Tarsius sirindhornae.

Dalam penelitian itu, mereka menemukan sebanyak 18 fosil tulang rahang ditemukan di dekat lokasi pertambangan Propinsi Lampang, Thailand. Setiap tulang rahang dilaporkan memiliki 4 gigi kecil.

Tarsius adalah primata kecil yang merupakan nenek moyang monyet dan manusia. Hewan ini memiliki mata besar dan aktif pada malam hari. Kini paling banyak ditemukan di wilayah Asia Tenggara.

"Tarsius, dulu dan sekarang, masih sangat langka. Jadi Anda bisa membayangkan kalau menemukan 18 fosilnya. Itu sangat luar biasa," kata pimpinan penelitian Yaowalak Chaimanee, geolog dari Departemen Sumber Daya Mineral Thailand.

Berdasarkan analisis fosil, Chaimanee mengatakan, spesies tarsius baru tersebut diperkirakan memiliki berat total 180 gram. Dengan demikian, spesies tersebut merupakan tarsius terbesar yang pernah ada.

Fosil tarsius saat ini memiliki gigi tajam dan memakan serangga dan mamalia kecil. "Fosil tarsius yang kami temukan memiliki gigi melingkar. Kami memperkirakan tarsius ini memakan sesuatu yang berbeda," katanya.

Chaimanee berpendapat, area di dekat pertambangan ketika tarsius hidup dahulu merupakan hutan lebat. Ia juga memperkirakan bahwa fosil-fosil yang ada milik tarsius yang menjadi santapan predator saat itu.

sumber: KOMPAS

Wisata Air Waduk Gondang Eksotik yang Sedikit Terlupakan

Waduk yang terletak 19 Km kearah barat Lamongan. Tepatnya didesa Gondang Lor dan Deket Agung Kecamatan Sugio. Untuk menuju lokasi ini selain dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi dapat juga menggunakan angkutan umum dari Lamongan menuju Gondang. Peresmiannya dilakukan oleh Presiden Suharto tahun 1987. waduk ini memiliki luas 6,60 Ha dengan kedalaman sekitar 29 meter. Ini sedikit ceita yang ane tau dari sesepuh desa setempat,...Tidak jauh dari lokasi waduk terdapat makam Dewi Sekardadu, putrid Blambangan istri Kanjeng Maulana Iskak yang juga disebut Mbok Rondo Gondang merupakan ibu Jaka Samudra atau Sunan Giri. Ditemukan tahun 1911 dan dipugar tahun 1917 oleh pemerintah .
Waduk seluas 6,60 hektar dengan kedalaman 29 meter itu, di resmikan penggunaannya oleh mendiang Presiden Soeharto tahun 1987. Selama 23 tahun lamanya, waduk Gondang telah menjadi tumpuan bagi ribuan petani di Lamongan.
Sejak 9 tahun terakhir, pemerintah kabupaten Lamongan mengembangkan Waduk yang mampu menampung 25 Juta Meter Kubik air ini menjadi obyek wisata air yang menawarkan kesejukan. Obyek wisata ini, sangat cocok untuk wisata keluarga atau bagi para siswa yang tengah menikmati liburan panjang.

Salah satu fasilitasnya adalah perahu milik nelayan setempat yang siap mengantarkan para pengunjung menikmati luasnya Waduk Gondang dengan biaya 20 ribu rupiah. Apalagi, di tengah Waduk, para pengunjung bisa menyaksikan kesibukan nelayan lokal saat mencari ikan serta sejumlah bangunan keramba ikan milik petani setempat.

Debit air Waduk Gondang saat ini hanya berkisar 2 juta meter kubik akibat kurangnya curah hujan. Meski demikian, tak mengurangi pesona keindahan Waduk, bahkan terlihat makin ramai terutama pada sabtu dan minggu. Akhir-akhir ini tidak hanya pengunjung perorangan saja. Namun banyak pula rombongan keluarga yang datang untuk berwisata.

Disamping itu, Waduk Gondang juga menyediakan fasilitas kebun binatang mini yang binatangnya rata-rata merupakan sumbangan masyarakat setempat, seperti ular phiton, kera, burung, elang dan lain-lain yang banyak di sukai anak-anak.

Menurut salah seorang pengunjung, satu kelebihan Waduk Gondang adalah rindangnya pepohononan serta kesejukan yang terpancar dari air Waduk Gondang. “Sejuk dan asri”. Ujar Sri Wulandari asal Tuban.

Selama musim liburan sekolah tahun ini, arus pengujung wisata mulai naik sekitar 1 minggu terakhir. Biasanya, dalam sehari, jumlah pengunjung hanya 100 orang, saat ini bisa mencapai 150 orang.

Melihat antusiasnya masyarakat, pihak pengelola berencana menambah sejumlah fasilitas seperti penambahan koleksi hewan, area parkir serta menara yang memungkinkan para pengunjung melihat luasnya area pertanian di sekitar Waduk.

Kalau anda kesulitan nemuin lokasi langsung saja cekidottt...


Lihat Peta Lebih Besar

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945



UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

SMS GERATIS

Back to top