Para Pemburu Gaharu dari Asmat
Cerita Perjalanan Menuju Agast Kota Diatas Rawa Dari Asmat
Masih Ingatkah Remaja Sekarang, Dibalik Riwayat 14 Ferbuari Selain Sebagai Hari Kasih Sayang!
Bulan Selo dalam penanggalan Islam Zdul Qo'dah, apa Benar bulan Sial?
Note ini semata mata menjawab pertanyaan tetangga, tentang bulan SELO kenapa orang tak mau menikahkan putra putrinya/Banyak bencana, pertanyaan : “menurut agan Gimana ?”
- Bulan zdul Qo’dah adalah bulan yang dimuliakan Allah swt, maka menjadikan dzul qo’dah sebagai bulan selo (kesesel barang olo) sangat tidak elok menurut tataran Islam, karena Allah telah memuliakan bulan dzul qo’dah
- Kembalikan esensi keberagamaan kita, jangan kita memposisikan diri kita dalam beragama terkalahkan dengan kebiasaan yang jelas jelas tak menguntungkan agama.
- Kemungkinan pengertian SELO itu adalah SILO artinya saat bulan dzul Qo’dah kita harus rajin berzikir karena akan datang bulan Dzul Hijjah (berhaji)
- Lakukan aktifitas atau ceremonial apa saja termasuk menikahkan anak anak kita pada bulan dzul qo’dah tak ada jeleknya menurut ajaran islam.
- Keberpihakan kita pada ajaran yang Haq (islam secara Kaffa), maka keimanan kita akan sempurna tanpa rasa takut selain kepada Allah.
- Semua bencana bala akan datang pada semua manusia, yang tujuan tak lain agar kita manusia lebih beriman dan bertaqwa.
Top 10 Programmer Terbesar di Dunia Sepanjang Sejarah
![]() |
| Top 10 Programmer Terbesar di Dunia Sepanjang Sejarah |
Mengelola Uang Ala Keturunan Tionghoa
![]() |
| Dwita Ariani, MM. RFARIFATwitter: @BundaWita Financial educator dari Zelts Consulting |
Valentine Dalam Sudut Pandang Islam
Mengenal Budaya Santet dan Penangkalnya Dari Segi Sains
Buya Hamka Dalam Kenangan
Fenomena Polemik Film Tengelamnya Kapal Van Der Wijck
1.200.000 penonton dalam 15 hari !!! Wow !!! Seperti itulah pencapaian Soraya Films yang dikutip dalam akun instagram-nya !!! Luar biasa bukan !!!
Komputer Tertua di Dunia
Sejarah Indonesia Dari Masa-Kemasa
Wisata Pinggiran "Makam Nyi Andongsari"

Fenomena Supermoon

Rujukan Aksara "Lontarak"

Tambangan, Jejak Peradaban Brantas (2)
Namun ada juga yang berukuran cukup besar, sehingga bisa menyeberangkan mobil seukuran pikap ukuran kecil (Suzuki Carry 1.500 cc) atau Toyota Kijang, termasuk milik Nohan, pengelola tambangan.
"Ada teori, perjalanan perahu di Sungai Brantas ini bahkan menyusuri sepanjang alur Brantas dari Blitar hingga Surabaya. Itu antara lain menjelaskan mengapa ada gambar relief perahu di Candi Penataran di Blitar"
Para penyeberang atau penumpang perahu ini adalah warga setempat yang memerlukan perjalanan lebih singkat dari Rejotangan (Tulungagung) ke Srengat (Blitar).
Sebenarnya kedua wilayah dihubungkan jalan raya Blitar Tulungagung, namun bagi pengguna tertentu cukup jauh jarak yang harus ditempuh jika mereka harus menyeberang lewat jembatan.
Sebab posisi jalan di lokasi ini membujur sejajar dengan posisi sungai. Jika orang hendak ke seberang sungai, maka harus berkendaraan menuju titik persinggungan sungai dan jalan berupa jembatan.
Selisih antara melewati jembatan dengan jarak jika naik perahu tambangan ini sampai 12 km. Untuk warga Rejotangan yang bekerja di Srengat di seberang dan menempuh perjalanan setiap hari, jarak itu terlalu jauh.
"Biaya menyeberang dengan tambang Rp 1.000 satu sepeda motor dengan satu pengemudi, atau Rp 1.500 jika ada pembonceng, cukup murah dibanding harus memutar lewat jembatan," tutur Huri (43), pengelola perahu tambang lainnya.
Organisasi kerjanya sederhana saja. Perahu tambang ini kini sepenuhnya merupakan kegiatan ekonomi. Perahu tambang dikelola sebuah kelompok yang bergiliran jaga, atau giliran kerja.
Lantaran banyaknya orang yang memerlukan pekerjaan dan nafkah, di perahu tambangan milik Huri misalnya, setiap orang peserta hanya mendapat giliran kerja tiga hari seminggu, dari tiga shift kerja 24 jam.
Ini agar semua mendapat kesempatan mencicipi rejeki perahu tambangan. Kelompok Nohan, bernama KT (Kelompok Tambangan) Margo Joyo, beranggotakan 11 orang.
Setiap shift ada tiga orang yang bekerja. Seorang mengendalikan dayung, sebagai kendali perahu. Dua orang lainnya, memegang tali, yang disebut tambang dalam Bahasa Jawa, dan menjadi asal nama tambangan itu.
Tali atau tambang inilah yang mengikat perahu, supaya perahu tak akan pernah bergeser dari tempatya. Ada dua tali. Satu yang berada sedikit di at as permukaan air, yang menjulur menyeberang sari sisi sungai satu ke sisi sungai lain. Berfungsi sebagai pegangan dua operator pendorong tenaga.
Satu tambang lainnya berupa kawat baja, yang berfungsi sebagai semacam rel, dengan roda yang terus berjalan b olak-balik sepanjang proses penyeberangan.
Kawat baja lainnya menghubungkan as roda dengan badan perahu. Ini menjadikan perahu tak pernah bergeser lokasinya, sehingga bisa merapat tempat ke lokasi dua dermaga di masing-masing sisi sungai.
Dewasa ini perahu-perahu yang semula dari bahan kayu, telah berganti dengan perahu besi. Badan perahu berlunas tunggal, bertindak sebagai semacam ponton.
Lambungnya dari bahan besi yang lebar, seperti struktur kapal feri roll on roll off (ro-ro). Baru sekitar setahun terakhir perahu ini dibuat, dengan biaya Rp 100 juta, dikerjakan di bengkel setempat.
Menurut Nohan, sebagai pemimpin kelompok, dirinya mewarisi bisnis ini dari ayahnya, yang kini karena sudah tua hanya sesekali ikut bekerja. Ayahnya itu, Pak To, juga mewarisinya dari kakek Nohan.
"Jadi ini turun temurun di keluarga kami. Selain ayah, kakak ipar saya juga bekerja disini. Jadi ini bisa disebut usaha keluarga, ditambah warga desa lainnya," kisahnya.
Artinya, perahu tambangan ini dengan demikian telah membentuk adaptasi teknologi, yang pasti amat berbeda dibanding teknologi tambangan zaman Majapahit. Namun ini tetap budaya yang sama dengan era itu. Adaptasi lainnya tentulah organisasi pengelolanya, yang kini berkembang sebagai usaha ekonomi kelompok warga.
Sungai Brantas yang diyakini sangat penting sebagai pilar dua peradaban di wilayah ini, kerajaan Singosari disusul Majapahit, pasti kegiatan tambangan ini dulunya merupakan alat transportasi utama.
"Ada teori yang mengemukakan perjalanan perahu di Sungai Brantas ini bahkan menyusuri sepanjang alur Brantas dari Blitar hingga Surabaya. Itu antara lain menjelaskan mengapa ada gambar relief perahu di Candi Penataran di Blitar," kata arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono.
Tambangan ini seperti menjelaskan tanda tanya, mengapa pada relief candi yang berdiri di kaki Gunung Kelud itu bisa ada gambar perahu. Relief itu bukan sekedar gambaran perahu kecil seperti perahu tambangan ini, namun malah perahu dengan deretan pendayung berjumlah 12 orang berderet di tepian perahu, ditambah gambar layar di atas perahu.
"Jika kita melihat sisa peradaban perahu seperti saat ini, maka bisa jadi dulunya di atas Sungai Brantas ini adalah pelabuhan besar dengan kapal-kapal besar, dengan layar besar, dengan bobot mati hingga puluhan ton," kata Dwi.
Jangan-jangan pula, para keluarga pengelolanya saat ini masih berhubungan dengan orang-orang yang dulu bergelar wwang anambangi di era Majapahit. Tidak itu saja.
Di lokasi tambangan itu mudah dijumpai berbagai benda purbakala seperti lumpang batu yang berada di tepi sungai. Ini bisa membawa tafsir lebih luas, tentang peradaban di tepian Brantas.
Yakni, sebuah masyarakat agraris (lumpang batu, tanda alat pengolahan biji-bijian hasil panen), namun telah melakukan kegiatan produksi yang ditransportasikan hingga ratusan kilometer, boleh jadi sampai ke pesisir utara di pantai Surabaya masa kini. Pertanyaannya, lalu produksi apa yang ditransportasikan zaman itu?
Bila sungai sedang tenang, di siang hari yang terik, di atas air hening dan tenang, sungguh menyenangkan menaiki perahu tambangan ini.
Pengemudinya pasti bekerja sembari menyetel radio transistor yang memperdengarkan gending-gending gamelan Jawa dari siaran radio amatir di Blitar dan Tulungagung.
Mungkin Raja Hayam Wuruk pernah melintasi sungai ini naik perahu seperti yang sedang kita alami. Mungkin Ken Arok juga, bersama istrinya yang terkenal cantik itu, Ken Dedes. (TAMAT)
Penulis: Doddy Wisnu Pribadi
Tambangan, Jejak Peradaban Brantas (1)
Telah ditemukan spesies baru Tarsius Purba
Para ilmuwan berhasil menemukan spesies baru tarsius purba yang hidup kira-kira 13 juta tahun yang lalu. Mereka menyadari fosil tulang rahang tarsius yang ditemukan merupakan spesies baru karena kunikannya dibandingkan tulang hewan sejenis. Spesies tarsius itu dinamai Tarsius sirindhornae.
Dalam penelitian itu, mereka menemukan sebanyak 18 fosil tulang rahang ditemukan di dekat lokasi pertambangan Propinsi Lampang, Thailand. Setiap tulang rahang dilaporkan memiliki 4 gigi kecil.
Tarsius adalah primata kecil yang merupakan nenek moyang monyet dan manusia. Hewan ini memiliki mata besar dan aktif pada malam hari. Kini paling banyak ditemukan di wilayah Asia Tenggara.
"Tarsius, dulu dan sekarang, masih sangat langka. Jadi Anda bisa membayangkan kalau menemukan 18 fosilnya. Itu sangat luar biasa," kata pimpinan penelitian Yaowalak Chaimanee, geolog dari Departemen Sumber Daya Mineral Thailand.
Berdasarkan analisis fosil, Chaimanee mengatakan, spesies tarsius baru tersebut diperkirakan memiliki berat total 180 gram. Dengan demikian, spesies tersebut merupakan tarsius terbesar yang pernah ada.
Fosil tarsius saat ini memiliki gigi tajam dan memakan serangga dan mamalia kecil. "Fosil tarsius yang kami temukan memiliki gigi melingkar. Kami memperkirakan tarsius ini memakan sesuatu yang berbeda," katanya.
Chaimanee berpendapat, area di dekat pertambangan ketika tarsius hidup dahulu merupakan hutan lebat. Ia juga memperkirakan bahwa fosil-fosil yang ada milik tarsius yang menjadi santapan predator saat itu.
sumber: KOMPAS
Wisata Air Waduk Gondang Eksotik yang Sedikit Terlupakan
Waduk seluas 6,60 hektar dengan kedalaman 29 meter itu, di resmikan penggunaannya oleh mendiang Presiden Soeharto tahun 1987. Selama 23 tahun lamanya, waduk Gondang telah menjadi tumpuan bagi ribuan petani di Lamongan.
Sejak 9 tahun terakhir, pemerintah kabupaten Lamongan mengembangkan Waduk yang mampu menampung 25 Juta Meter Kubik air ini menjadi obyek wisata air yang menawarkan kesejukan. Obyek wisata ini, sangat cocok untuk wisata keluarga atau bagi para siswa yang tengah menikmati liburan panjang.Salah satu fasilitasnya adalah perahu milik nelayan setempat yang siap mengantarkan para pengunjung menikmati luasnya Waduk Gondang dengan biaya 20 ribu rupiah. Apalagi, di tengah Waduk, para pengunjung bisa menyaksikan kesibukan nelayan lokal saat mencari ikan serta sejumlah bangunan keramba ikan milik petani setempat.
Debit air Waduk Gondang saat ini hanya berkisar 2 juta meter kubik akibat kurangnya curah hujan. Meski demikian, tak mengurangi pesona keindahan Waduk, bahkan terlihat makin ramai terutama pada sabtu dan minggu. Akhir-akhir ini tidak hanya pengunjung perorangan saja. Namun banyak pula rombongan keluarga yang datang untuk berwisata.
Disamping itu, Waduk Gondang juga menyediakan fasilitas kebun binatang mini yang binatangnya rata-rata merupakan sumbangan masyarakat setempat, seperti ular phiton, kera, burung, elang dan lain-lain yang banyak di sukai anak-anak.
Menurut salah seorang pengunjung, satu kelebihan Waduk Gondang adalah rindangnya pepohononan serta kesejukan yang terpancar dari air Waduk Gondang. “Sejuk dan asri”. Ujar Sri Wulandari asal Tuban.
Selama musim liburan sekolah tahun ini, arus pengujung wisata mulai naik sekitar 1 minggu terakhir. Biasanya, dalam sehari, jumlah pengunjung hanya 100 orang, saat ini bisa mencapai 150 orang.
Melihat antusiasnya masyarakat, pihak pengelola berencana menambah sejumlah fasilitas seperti penambahan koleksi hewan, area parkir serta menara yang memungkinkan para pengunjung melihat luasnya area pertanian di sekitar Waduk.
Kalau anda kesulitan nemuin lokasi langsung saja cekidottt...
Lihat Peta Lebih Besar
UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.











